Cerita Pendek: Berpikir Sederhana dan Berbeda (II)

Berpikir Sederhana dan Berbeda (II)

Diceritakan pada suatu ketika, ada seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Baca lebih lanjut

Iklan

Cerita Pendek: Berpikir Sederhana dan Berbeda (I)

Alkisah diceritakan , pada suatu hari, Christopher Columbus menghadiri sebuah acara jamuan makan di mana ia akan mendapatkan penghargaan dari seorang petinggi di Spanyol. Pada saat itulah, seseorang tiba-tiba menganggap remeh penemuan Dunia Baru oleh Columbus dengan mengatakan bahwa setiap orang pun dapat menemukan dunia itu.

Menghadapi cercaan itu, Columbus kemudian menantang semua orang yang hadir dalam acara tersebut untuk membuat telur berdiri tanpa memegangnya. Banyak orang mencoba tantangan Columbus tersebut, namun tidak ada yang berhasil. Mereka kemudian berpendapat bahwa mustahil membuat telur berdiri tanpa memegangnya. Colombus kemudian mengambil sebuah telur, sedikit memecahkan bagian bawah telur itu, kemudian menaruhnya di meja dan telur itu pun berdiri tanpa dipegang olehnya. Baca lebih lanjut

Cerita Pendek: Kisah Ayah, Anak dan Keledai

Kisah Ayah, Anak dan Keledai

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang Pak tua bersama putranya di sebuah desa. Desa itu sudah lama kekeringan dan menjadi tandus, sehingga banyak dari penduduk desa yang pindah. Kehidupan mereka sangat miskin, hanya sebuah gubuk reot dan seekor keledai lah harta yang mereka miliki. Setiap hari mereka hanya mengandalkan keledai yang mereka miliki untuk bekerja. Sehingga suatu hari, diputuskanlah mereka akan pergi ke pekan raya di kota untuk menjual keledainya.

Seorang perempuan melihat mereka dan tertawa, “Kalian berjalan membawa keledai. mengapa kalian tak menungganginya? Kalian berdua benar-benar bodoh!” “Perempuan itu benar,” kata Pak tua kepada putranya, “Kita berdua sungguh bodoh.” Maka orang tua itu naik ke punggung keledai, dan anaknya berjalan mengikuti di belakangnya. Baca lebih lanjut

Cerita Pendek: Kisah Ahli Permata

Kisah Ahli Permata

Suatu ketika, ada seorang anak muda mengunjungi ahli permata terkenal dan menyatakan maksudnya untuk mau belajar tentang permata dan berguru. Pada mulanya, ahli permata itu menolak, karena ia kawatir bahwa anak muda ini tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk belajar. Namun karena anak muda itu terus memohon dan menunjukkan kesungguhannya, akhirnya ahli permata pun menyetujui permintaannya. “Datanglah kembali besok pagi, kamu akan memulai latihanmu” kata si ahli permata kepada anak muda.

Keesokan harinya, ahli permata memberikan sebuah batu berlian dan meminta agar si anak muda menggenggamnya dengan erat. Setelah itu, ahli permata meneruskan aktivitasnya dan meninggalkan anak muda itu sendirian sampai sore. Baca lebih lanjut

Cerita Pendek: Berkorban Demi Menolong

Berkorban Demi Menolong

Pada suatu ketika di sore hari yang tenang, tampaklah seorang pertapa muda sedang berjalan menyusuri tepi sungai. Tiba-tiba matanya menangkap suatu gerakan di dekat tepi sungai tempatnya berjalan. Ternyata di sana, tampak seekor kepiting, yang sedang berusaha keras mengerahkan tenaganya untuk meraih tepian sungai.

Melihat hal itu, pertapa muda segera saja mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Dan tentu saja kepiting tadi menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa muda puas karena bisa menyelamatkan si kepiting. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya kembali. Tak jauh dari tempat itu, ternyata terlihat juga seekor kepiting lain juga sedang berjuang agar bisa meraih tepian sungai. Baca lebih lanjut

Cerita Pendek: Kisah Meja Kayu

Kisah Meja Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan kakek ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Baca lebih lanjut

Cerita Pendek: Kejadian di Sebuah Angkutan Kota

Kejadian di Sebuah Angkutan Kota

Kejadian dan penulis kisah ini tidak diketahui, namun cerita pengalaman yang awalnya tersebar melalui milis ini banyak diceritakan kembali oleh para blogger, karena mengandung suatu pesan positif yang jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca pada kesempatan kali ini.

Suatu hari saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranangsiang, Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak yang masih muda. Di dalam angkot duduk 7 penumpang, termasuk saya. Masih ada 5 kursi yang belum terisi. Di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Tapi ada pemandangan aneh. Di depan angkot yang kami tumpangi, ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja, berdiri di tepi jalan. Tiap ada angkot yang berhenti di hadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu berbicara kepada sopir angkot, lalu angkot itu melaju kembali. Baca lebih lanjut